Neraca Perdagangan RI Defisit Untuk Pertama Kalinya Dalam 6 Tahun
| Sumber: Antara News |
JAKARTA, 2 Juli 2026 – Neraca perdagangan barang Indonesia mengalami defisit sebesar US$ 1,61 miliar pada Mei 2026, menandai berakhirnya rekor surplus neraca perdagangan selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Data resmi dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan defisit ini terjadi untuk pertama kalinya dalam enam tahun.
Defisit Mei 2026 tercatat sebesar US$ 1,61 miliar, dengan impor mencapai US$ 24,81 miliar sementara ekspor hanya sebesar US$ 23,20 miliar. Angka ini mengakhiri surplus neraca perdagangan yang konsisten selama enam tahun. Badan Pusat Statistik merilis data neraca perdagangan Mei 2026 hari ini, memperlihatkan defisit perdagangan luar negeri pertama sejak April 2020. Data memperlihatkan bahwa situasi perdagangan luar negeri Indonesia pada Mei 2026 mencerminkan pergeseran pola konsumsi global dan tantangan struktural dalam negeri yang memengaruhi kinerja ekspor dan impor.
Konteks
Rekor surplus 72 bulan berturut-turut (Mei 2020 - April 2026) menunjukkan ketahanan ekonomi Indonesia selama periode tersebut. Surplus tertinggi sepanjang masa tercapai pada tahun 2022 sebesar US$ 54,46 miliar, menunjukkan peak kinerja perdagangan luar negeri pada masa itu. Data menunjukkan bahwa surplus perdagangan luar negeri pada tahun 2025 mencapai US$ 41,05 miliar, sementara surplus pada tahun 2024 tercatat sebesar US$ 31,04 miliar, dan pada tahun 2023 sebesar US$ 36,93 miliar.
Surplus tahunan menunjukkan tren meningkat dari 2023 hingga 2025. Penurunan pada 2024 mungkin terkait tantangan global.
Namun, data kumulatif hingga Mei 2026 masih memperlihatkan surplus US$ 4,03 miliar untuk periode Januari-Mei 2026, ketika Indonesia membukukan ekspor sebesar US$ 115,36 miliar (naik 3,02%) dan impor sebesar US$ 111,33 miliar (naik 15,24%). Peningkatan impor yang lebih cepat dibandingkan ekspor mulai mencerminkan tekanan yang meningkat terhadap neraca perdagangan luar negeri Indonesia.
Pada Mei 2026, defisit perdagangan luar negeri Indonesia terutama didorong oleh defisit perdagangan komoditas migas sebesar minus US$ 3,76 miliar, meskipun Indonesia masih mencatatkan surplus perdagangan luar negeri nonmigas sebesar US$ 2,15 miliar. Ekspor migas turun sebesar 31,76% YoY menjadi US$ 0,76 miliar, sementara impor migas melonjak 70,78% YoY menjadi US$ 4,51 miliar. Kesenjangan antara kinerja ekspor dan impor komoditas migas menjadi faktor utama defisit Mei 2026.
Data Inti
Angka Defisit Mei 2026
Defisit: US$ 1,61 miliar
Ekspor: US$ 23,20 miliar (turun 5,73% YoY)
Impor: US$ 24,81 miliar (naik 22,16% YoY)
Rincian Migas vs Nonmigas
Defisit migas: US$ 3,76 miliar
Surplus nonmigas: US$ 2,15 miliar
Ekspor migas: US$ 0,76 miliar (turun 31,76% YoY)
Impor migas: US$ 4,51 miliar (naik 70,78% YoY)
Seluruh data ini dilaporkan oleh Badan Pusat Statistik Indonesia melalui release resmi pada tanggal 1 Juli 2026, yang mengonfirmasi defisit perdagangan luar negeri pertama dalam enam tahun terakhir.Sumber: Berita Resmi Statistik 1 Juli 2026
Analisis Dampak
Ateng Hartono, Deputi Badan Pusat Statistik, menyatakan: "Pada Mei 2026 neraca perdagangan barang mengalami defisit sebesar US$ 1,61 miliar. Defisit pada Mei 2026 disebabkan terutama defisit pada komoditas migas sebesar minus US$ 3,76 miliar dengan penyumbang defisit komoditas migas yaitu dari hasil minyak dan dari minyak mentah."
Faktor Penyebab Defisit Migas
Lonjakan impor migas didorong oleh konflik geopolitik di Timur Tengah dan harga minyak mentah global yang melonjak di atas US$ 100 per barel. Kenaikan harga minyak ini melemahkan kinerja ekspor migas Indonesia, ketika pada saat yang sama biaya impor meningkat tajam.
Defisit perdagangan luar negeri nonmigas mencatat surplus sebesar US$ 2,15 miliar pada Mei 2026, menunjukkan bahwa sektor nonmigas masih mempertahankan kinerja positif meskipun adanya defisit di sektor migas. Ekspor nonmigas ini mencerminkan ketahanan sektor manufaktur dan komoditas primer Indonesia.
Defisit perdagangan luar negeri Indonesia pada Januari-Mei 2026 dengan Tiongkok meningkat menjadi US$ 10,17 miliar, naik dari US$ 8,15 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Lonjakan defisit dengan Australia juga meningkat menjadi US$ 3,99 miliar.
Penutup
Dengan kenaikan harga minyak global yang terus berlanjut dan tantangan perdagangan global, defisit perdagangan luar negeri bulanan mungkin akan berlanjut selama beberapa bulan ke depan. Namun, penyesuaian kebijakan fiskal dan upaya diversifikasi ekspor dapat membantu meringankan tekanan pada neraca perdagangan luar negeri dalam jangka menengah.
Perekonomian Indonesia mengalami pergeseran signifikan pada Mei 2026 ketika neraca perdagangan barang mengalami defisit pertama dalam enam tahun, mengakhiri rekor surplus 72 bulan. Meskipun demikian, neraca perdagangan kumulatif untuk periode Januari-Mei 2026 masih memperlihatkan surplus US$ 4,03 miliar, menunjukkan ketahanan yang masih terpelihara.
Perubahan arah ini terutama didorong oleh lonjakan impor migas yang disebabkan oleh gejolak geopolitik global dan kenaikan harga minyak, sementara ekspor migas gagal mengimbangi. Sektor nonmigas masih mempertahankan surplus, menunjukkan bagian fundamental perdagangan luar negeri Indonesia yang masih kuat.
Pihak berwenang memantau situasi ini dengan hati-hati, menyadari bahwa tren defisit yang berkelanjutan dapat meningkatkan tekanan pada cadangan devisa dan nilai tukar. Kebijakan fiskal dan perdagangan yang responsif akan diperlukan untuk mengelola tantangan ini dan mempertahankan stabilitas perdagangan luar negeri Indonesia.
Referensi
Badan Pusat Statistik. (2026, 1 Juli). Ekspor dan impor Indonesia Mei 2026 masing-masing tercatat USD 23,20 miliar dan USD 24,81 miliar [Siaran Pers]. https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2026/07/01/2587/ekspor-dan-impor-indonesia-mei-2026-masing-masing-tercatat-usd-23-20-miliar-dan-usd-24-81-miliar.html
Badan Pusat Statistik. (2026, 2 Juni). Ekspor dan impor Indonesia April 2026 masing-masing tercatat USD 25,30 miliar dan USD 25,21 miliar [Siaran Pers]. https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2026/06/02/2583/ekspor-dan-impor-indonesia-april-2026-masing-masing-tercatat-usd-25-30-miliar-dan-usd-25-21-miliar.html
Badan Pusat Statistik. (2026, 4 Mei). Ekspor dan impor Indonesia Maret 2026 masing-masing tercatat USD 22,53 miliar dan USD 19,21 miliar [Siaran Pers]. https://www.bps.go.id/id/pressrelease/2026/05/04/2567/-ekspor-dan-impor-indonesia-maret-2026-masing-masing-tercatat-usd-22-53-miliar-dan-usd-19-21-miliar-.html
Badan Pusat Statistik. (2026, 2 Februari). Exports and imports of Indonesia in December 2025 reached USD 26,35 billion and USD 23,83 billion, respectively [Siaran Pers]. https://www.bps.go.id/en/pressrelease/2026/02/02/2537/exports-and-imports-of-indonesia-in-december-2025-reached-usd26-35-billion-and-usd23-83-billion--respectively.html