Pencarian Berita
Menu
Ekonomik Kesehatan Sosial Diksi Data Opini Tim Redaksi

Napak Tilas Satu Dekade Pertamax dan Historis Kenaikan Harga

Bowo Arifin Ryan Fanuchi

Juni 10, 2026 ⏱ Menghitung...

W F

 

Ilustrasi Oleh Gemini ai

Coba ingat-ingat lagi.

Ingat betul rasanya berdiri di SPBU sekitar tahun 2011 atau 2012 — tangki motor setengah kosong, dompet masih aman, dan angka di layar dispenser itu belum terasa seperti ancaman. Rp8.350 per liter. Mungkin kamu ketawa sekarang baca angka itu. Tapi dulu, itu angka nyata. Bukan nostalgia yang diperindah, bukan kenangan yang dipoles sepia. Itu fakta yang tercetak di struk SPBU yang mungkin masih ada di laci dapur rumah lama kita.

Sekarang, di pertengahan 2026, berdiri di depan mesin yang sama terasa seperti konfrontasi. Layar dispenser menampilkan angka Rp16.250 per liter — dan tangan kita yang mengarahkan selang itu tidak bisa lari ke mana-mana. Kita sudah di sini. Kita sudah pesan. Kita harus bayar.

Lalu dari mana datangnya angka itu? Apa yang terjadi di antara dua titik waktu itu — antara 2011 yang terasa lapang dan 2026 yang terasa sempit?

Jawabannya bukan sekadar data. Ia adalah sejarah yang kita jalani sendiri, diam-diam, tanpa pernah benar-benar sadar kapan kita mulai direbus.

Sumber : Pertamina Parta Niaga & Berbagai Sumber/ diolah oleh Bowo Arifin Ryan Fanuchi

Waktu Ketika Bensin Belum Menjadi Teror

Di era 2011–2012, Pertamax memang bukan bensin murah — ia sudah berbeda kelas dari Premium bersubsidi. Tapi ia juga belum menjadi siksaan. Kisaran Rp8.350 hingga Rp9.250 per liter masih bisa dikalkulasi kepala tanpa kalkulator. Masih bisa di-round up santai saat mengisi tangki penuh.

Rupiah saat itu masih berdiri di angka Rp8.550–9.100 per Dolar AS. Lemah? Relatif. Tapi masih punya harga diri. Masih bisa berdiri tegak di hadapan pasar global. Dan karena Rupiah masih punya daya, kita pun masih punya daya — daya beli, daya bergerak, daya hidup.

Kelas menengah urban kala itu sedang dalam mode optimis-realistis. Cicilan motor? Oke. Bensin bulan ini? Terkalkulasi. Makan siang di warteg dekat kantor? Masih masuk budget. Hidup terasa seperti persamaan matematika yang masih bisa diselesaikan.

Ketika Alarm Pertama Berbunyi, Lalu Diabaikan

Oktober 2018. Pertamax menembus Rp10.400 per liter. Untuk pertama kalinya, angkanya melewati batas psikologis lima digit dengan cara yang terasa serius — bukan sekadar inflasi wajar tahunan, tapi sebuah lompatan yang menandakan ada yang berubah secara struktural.

Rupiah sudah roboh ke Rp15.200 per Dolar AS. Kurs telah melemah hampir dua kali lipat dibanding tujuh tahun sebelumnya. Tapi narasi resminya ketika itu? "Minyak dunia sedang tinggi. Ini penyesuaian. Ini sementara."

Kita percaya. Atau lebih tepatnya, kita dipaksa percaya karena tidak ada pilihan lain selain terus mengisi tangki dan melanjutkan hidup.

Yang tidak pernah diakui: masalahnya bukan di harga minyak mentah yang berfluktuasi di pasar global. Masalahnya ada di Rupiah kita yang mulai kehilangan otot. Setiap kali Rupiah melemah satu persen, biaya impor minyak naik dalam denominasi Rupiah — dan beban itu tidak ditanggung negara, tidak ditanggung Pertamina sendirian. Beban itu dioper ke tangan kita yang sedang pegang selang SPBU.

Alarm berbunyi. Tapi tidak ada yang berlari ke tombol darurat.

September 2022 — Pukulan yang Tidak Sempat Diantisipasi

Dunia baru saja selesai dihantam pandemi. Kelas menengah baru saja menghitung ulang sisa tabungan, merumahkan rencana yang tertunda, menjual aset yang seharusnya jadi jaminan pensiun.

Lalu September 2022 datang seperti petinju yang menyerang saat lawan sedang berlutut: Pertamax melonjak ke Rp14.500 per liter. Dalam sekejap. Tanpa banyak pemanasan.

Kurs memang "hanya" di Rp14.900 per Dolar saat itu — relatif lebih stabil dibanding 2018. Tapi ini bukan soal kurs semata. Ini soal timing. Memukul daya beli masyarakat yang sedang dalam mode pemulihan pasca-pandemi sama dengan mencabut infus pasien yang baru mulai sadar dari koma.

Rp14.500 per liter bagi seorang ojek online berarti satu perhitungan ulang dari awal. Bagi karyawan swasta yang komuter puluhan kilo per hari, itu berarti satu pos pengeluaran baru yang harus dicari jatahnya dari anggaran yang sudah tipis.

Angka yang Seharusnya Tidak Kita Capai

Rp16.250 per liter. Kurs: Rp18.033 per Dolar AS.

Tulis dua angka itu berdampingan, lalu bandingkan dengan 2011 — dan kamu akan melihat bukan sekadar inflasi. Kamu melihat sejarah pengabaian yang telah dikompilasi selama satu dekade lebih.

Kurs melemah lebih dari dua kali lipat sejak 2011. Harga Pertamax ikut melipatgandakan diri. Dan di mana kelas menengah dalam perjalanan panjang ini? Di sana juga — tapi tidak berkembang dua kali lipat. Upah mereka naik, tapi dalam irama yang berbeda: pelan, tergantung negosiasi, tergantung kebijakan UMR yang selalu tertinggal dari laju harga.


Sumber : Pertamina Parta Niaga & Berbagai Sumber/ diolah oleh Bowo Arifin Ryan Fanuchi

Persoalannya bukan hanya soal Rp16.250 itu sendiri. Persoalannya adalah bahwa kenaikan ini tidak pernah datang sendiri. Ia membawa serta naiknya ongkos angkutan barang, naiknya harga bahan makanan yang didistribusikan pakai truk berbahan solar, naiknya tarif ojol yang terpaksa menyesuaikan. Pertamax yang mahal adalah pintu masuk — setelah pintu itu terbuka, segalanya ikut naik, bergantian, seperti efek domino yang tidak pernah berhenti di satu titik.

Tangki Itu Ada Batas Penuhnya

Ada analogi lama tentang katak yang tidak melompat keluar dari air yang dipanaskan perlahan. Kita bukan katak. Kita sadar. Kita tahu air ini panas. Tapi kita tidak bisa melompat ke mana-mana karena kerangkeng ekonomi ini juga kita yang membangun sendiri — dengan diam, dengan menerima, dengan terus mengisi tangki tanpa pernah benar-benar bertanya kenapa angkanya terus berubah.

Tapi ada satu pelajaran yang berlaku universal, termasuk untuk motor tua rekan-rekan komuter kita: tangki itu ada batas penuhnya. Setelah penuh, bensin tumpah. Dan bensin yang tumpah di tanah panas hanya butuh satu percikan kecil untuk menjadi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar keluhan di media sosial.

Kelas menengah Indonesia bukan orang yang mudah marah. Mereka terlatih bersabar, terlatih beradaptasi, terlatih berhitung ulang di kepala saat angka dispenser berputar. Tapi kesabaran yang tidak pernah dihargai oleh kebijakan yang serius dan struktural, pada suatu titik, bukan lagi kesabaran.

Ia adalah akumulasi.

Dan akumulasi tidak pernah hilang begitu saja.

Tags: Ekonomi

Baca Juga